Saturday, August 11, 2018

Tokoh Masyarakat Kawei : Menutup Lahan Tambang Bukan Solusi Untuk Masyarakat Kawei

MITRAPOL.com, Papua - Kunjungan kerja Forkopimda Papua ke Kampung Korowai Kabupaten Mapi melalui Bandar Udara Tanah Merah, dalam kunjungan tersebut dihadiri oleh Penjabat Gubernur Papua, Pangdam Cenderawasih dan Kapolda Papua serta Anggota DPR Papua (Komisi I) telah melakukan Survey Udara untuk melihat lokasi Penambangan Rakyat di daerah tersebut, Jumat (10/8/2018).


"Penambangan Rakyat Illegal di Kampung Korowai dan wilayah lain di Papua, terhitung pada hari ini, Jumat (10/08/18) dinyatakan ditutup" ucap Penjabat Gubernur Papua.

Usai kunjungan Kerja Forkopimda Papua ke Kampung Korowai dan dilanjutkan makan siang, setelah itu Forkopimda Papua kembali ke Jayapura sekitar pukul 14:28 pada Jumat (10/8), dari kunjungan kerja tersebut para tokoh masyarakat Kawei kecewa karena tidak ada pertemuan antara Forkopimda Papua dengan masyarakat Kampung pemilik dusun yang didalamnya terdapat sumber daya alam.

Kepala Kampung Kawei Abia Kamiki, Tokoh Pemuda Mesak Dombon, bersama masyarakat Kampung Distrik Awimbon Oksibil Kabupaten Pegunungan Bintang sesalkan tindakan Forkopimda Papua menutup Penambangan Rakyat.

Dengan ditutupnya tambang rakyat tersebut, Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tuan Dusun dan Kepala Kampung Kawei melakukan Konferensi Pers guna menyatakan sikap bahwa kami akan tetap menambang di wilayah kami dan diatas Tanah Adat kami, kami tidak mencuri barang milik Pemerintah, Logam Mulia itu milik kami, Tuhan tidak buta dengan kesengsaraan yang dialami keluarga kami, saudara-saudara kami yang sebelumnya hidup menderita diatas kekayaan alamnya, maka dengan adanya Penambangan Rakyat ini, sangat-sangat membantu merubah pola kehidupan perekonomian kami selaku masyarakat khususnya di Kampung Kawei, seperti yang diketahui tadinya mereka hidup sengsara dan tinggal di rumah-rumah gubuk yang beratapkan Daun Sagu yang berdinding gaba di bawah Rimbunan Pohon Hutan belukar, dan mereka hanya makan umbi-umbian dan sekarang dengan adanya Penambangan Rakyat, keluarga kami, saudara-saudara kami mendapatkan perubahan dalam kehidupan kami sehari-hari, yang tadinya hanya makan umbi-umbian, sekarang mereka makan nasi, yang tadinya mereka tinggal di gubuk, sekarang mereka tinggal di rumah layak huni dan lain sebagainya," tutur para tokoh masyarakat kawei.

"Maka kami yang hidup di Kota Tanah Merah, kami sangat senang dan bangga melihat keluarga dan saudara-saudara kami yang hidup sekarang di Kampung terpencil dan terisolir bahagia. Sebelum adanya Tambang di Kampung Kawei, masyarakat Kampung Kawei hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di gubuk rumah beratapkan Daun Sagu dan berdiding gaba,"tandas Kepala Kampung Kawei Abia Kamiki.

Abia Kamiki menambahkan bahwa walaupun mereka tinggal di daerah terisolir, mereka bisa datang ke Tanah Merah Kabupaten Boven Digoel dengan menggunakan perahu tradisional untuk berbelanja bahan pokok dengan jarak tempuh 3-4 hari, semuanya tergantung pasang surutnya air sungai, dan terkadatang mereka menggunakan Helikopter untuk mengangkut bahan belanjaan mereka ke Kampung Kawei.

"Dengan mulai munculnya Pertambangan Rakyat di Kampung Kawei, masyarakat Kawei sudah tidak lagi berharap bantuan dari Pemerintah Daerah melalui surat proposal, sebab dengan hasil sumber daya alam yang mereka miliki dapat mensejahterakan mereka, maka saya selaku Kepala Kampung Kawei Abia Kamiki, Tuan Dusun Niko Yarik dan Tokoh Pemuda Kawei Mesak Dombon menyikapi ucapan Penjabat Gubernur Papua dimana penambangan rakyat di Papua Tutup. Menurutnya hal ini bukan solusi bagi Pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat sehingga dengan tegas kami nyatakan sikap dan atas nama rakyat pribumi Kawei bahwa penambangan rakyat tetap berjalan demi kelangsungan hidup orang banyak, sebab kami tidak mencuri Emas milik Pemerintah, kami sendiri yang menggali sumber daya alam yang dimiliki oleh Kampung Kawei dan kami ingin Kampung Kawei maju dan bersaing dengan Kampung-Kampung lain yang ada di seluruh Indonesia, "Harap ketiga para Tokoh Kawei.

Lanjut parah tokoh masyarakat bahwa" Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri untuk memberdayakan dan mensejahterakan rakyatnya tanpa campur tangan pihak swasta maka dari itu, kami ketiga Tokoh Kawei menginginkan agar penambangan rakyat tetap dijalankan demi kelangsungan hidup masyarakat Kawei, serta dengan adanya hasil tambang kami dapat menyekolahkan anak cucu kami di Tanah Merah Kabupaten Boven Digoel, sebab Kampung Kawei ini berdiri sejak zaman penjajahan hingga kini tidak ada perhatian serius dan kontribusi Pemerintah dalam pembangunan di Kampung Kawei seperti sarana dan prasarana penunjang, sehingga Kampung Kawei ini sangat terisolir dan tidak pernah dikunjungi atau tidak pernah dijangkau oleh Pemerintah siapapun," tuturnya.

"Kehidupan warga kampung Kawei relatif miskin dan buta huruf, sehingga dalam 8 bulan terakhir ini dengan adanya tambang Emas anak cucu kami dapat disekolahkan di Tanah Merah Kabupaten Boven Digoel dan terjadi peningkatan dalam ekonomi rakyat di Kampung Kawei, ucap ketiga para Tokoh Kawei.

"Siapa lagi yang dapat membangun Kampung Kawei dan Kapan lagi kalau bukan sekarang" karena Daerah Kawei belum terjangkau oleh pembangunan. Negeri kami sampai sekarang belum ada fasilitas penunjang seperti sekolah, Lapangan terbang, Puskesmas dan lain sebagainya. Transportasi satu-satunya hanya melalui Sungai Diram dengan menggunakan perahu tradisional maka dengan adanya penambangan rakyat kami sudah bisa pasok bahan pokok ke Kampung kami dengan menggunakan Helikopter,"tandas Mesak.

"Kami berharap agar pemerintah menarik kembali keputusan untuk menutup tambang Emas di Kawei atau demi kesejahteraan masyarakat agar pemerinta segerah melegalkan tambang Emas di kampung Kawei," harap para tokoh masyarakat Kawei.




Reporter : R' Karambut

SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: