Wednesday, July 11, 2018

Kampung Masin Bagian Sejarah Indonesia yang Terlupakan di Zaman Now

MITRAPOL.com - Menarik kembali cerita sejarah kampung masin, menurut cerita masyarakat di kampung itu kepada salah satu tokoh agama pada saat memimpin ibadah disana beberapa bulan yang lalu, dimana kampung tersebut pernah menjadi tempat Bung Karno ditahan sebelum dibawa ke tanah merah, yang sekarang telah menjadi Kabupaten Boven Digoel, Kampung Masin juga pernah menjadi ibu kota distrik yang di pimpin oleh Felix Maturbongs yang biasa dipanggil dengan sebutan Tete Bestir.



Kepada mitrapol.com, tokoh agama itu menjelaskan, ironis nya kampung yang memiliki nilai sejarah itu tidak memiliki sekolah dan pustu yang layak.

“Pasal nya rumah warga di jadikan pustu dan pemilik rumah itu sebagai mantri, sementara pemilik rumah itu tidak berbekal ilmu keperawatan, kasar nya dia bukan seorang mantri. Saya minta hal ini harus sampai ketelinga bapak Presiden Joko Widodo, hampir sudah tujuh puluh tiga tahun kita merdeka, sekolah disana masih beratap daun saguh, guru serta tenaga medis tidak ada di kampung itu. Dengan kerelaan seorang warga yang bersedia menjadi guru bagi anak-anak Kampung Masin, dimana hanya terdapat satu atap bangunan sekolah dari papan usang yang menjadi kelas satu sampai dengan kelas enam itu,” ucapnya, Rabu (11/07/2018).

Timbul dugaan besar anggaran dinas pendidikan dan kesehatan tidak tepat sasaran, harus ada orang yang bersuara dan berteriak lebih keras akan hal-hal seperti ini, dimana anggota DPRD kabupaten tidak spesifik melihat kondisi masyarakat, terutama mereka yang ada di kampung-kampung, sambung tokoh agama yang tidak ingin nama nya disebutkan itu.

Lanjut nya, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh kehidupan yang layak, serta pendidikan dan kesehatan. “Apa ini disebut keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, kabupaten asmat menjadi perhatian penting dari pemerintah pusat karena busung lapar, mengapa di Mappi tidak di perhatiakan dari pendidikan dan kesehatan, sungguh kelemahan pemeritah daerah serta kelemahan stake holder yang memiliki peran dalam bidang tersebut,” pungkasnya.



“Kemanakah Undang-undang Otonomi Khusus bagi orang Papua, tunggu saya akan kumpulkan data mengenai segala sesuatu menyangkut pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur, pembangunan ibu kota kabupaten saja tidak tepat, sekarang menjadi kota hantu,” Rabu 11/07/18

Reporter : yanes

SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: