Tuesday, June 12, 2018

Imigrasi Kelas ll Mimika Gebuk 37 WNA Pekerja Illegal

MITRAPOL.com - Fenomena “Gunung Es” tambang illegal yang beroperasi di Distrik Makimi Kampung Legari yang berada di Kabupaten Nabire Provinsi Papua. Menuai banyak polemik dan kontroversi dikalangan masyarakat Papua khususnya Nabire.

Kakanim Mimika Jesaja Samuel Enock Amd, Im (tengah).

Pembahasan mengenai penambangan emas tanpa izin. Seharusnya penegak hukum segera menutup praktek pertambangan tanpa izin itu sesuai ketentuan Undang-Undang nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang tersebut, izin pertambangan dapat diajukan kepada Bupati, Gubernur, atau Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral. Kegiatan yang berlangsung di kawasan hutan atau di darat memiliki persyaratan izin khusus.

Selain itu izin masuk untuk tenaga kerja asing (WNA) yang dipekerjakan di area pertambangan harus benar-benar lengkap perizinannya.

Dalam Undang-Undang tersebut dengan jelas mengatur bagaimana seseorang atau perusahaan atau koperasi untuk mendapatkan izin pertambangan. Sanksinya cukup berat, yaitu hukuman penjara maksimal 10 tahun dan denda uang maksimal sebesar Rp 10 milyar.

Bukan hanya penambang yang mendapatkan sanksi hukum seperti itu, tapi juga orang yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, dan penjualan biji emas.

Dan itu sesuai dengan bunyi Pasal 161 Bab XXIII dari Undang-undang nomor 4 Tahun 2009 itu, artinya bukan hanya penambang saja yang bisa terjerat sanksi hukum, tapi orang yang menampung maupun memanfaatkan juga bisa dijerat.

Sudah saatnya Pemerintah bersama pihak Kepolisian menyikapi persoalan pelanggaran hukum dan undang-undang tentang Minerba yang meliputi penambangan emas tanpa izin di Kabupaten Nabire.

Saksikan Videonya Disini

Artinya, kita tidak ingin ada unsur pembiaran atas pelanggaran hukum dan undang-undang dalam praktek pertambangan di Kabupaten Nabire.

Tentu Pemerintah dan Kepolisian bersama pemangku kebijakan lainnya harus segera menyikapi ini, bisa juga dikatakan mengorbankan masyarakat dalam persoalan tambang ini, hanya saja pelanggaran undang-undang ini jangan dibiarkan, karena masih ada jalur lain yang bisa melegalkan usaha tambang rakyat, bukan dengan kondisi sekarang tidak ada penjelasan dan ketegasan dari dinas pertambangan atas pelanggaran hukum yang sudah cukup lama berlalu itu.

Seperti diketahui, dalam pasal 161 bab XXIII dari UU nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba bunyinya “Setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK, atau izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1), Pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal 104 ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000.00 (sepuluh miliar rupiah).

Pantauan MITRAPOL.com dilokasi tambang tersebut juga sudah terlalu banyak Warga Negara Asing (WNA) illegal dimana tidak memiliki dokumen berupa visa kerja.

Dengan adanya laporan dari masyarakat bahwa di Nabire banyak terdapat tenaga asing, salah satu warga Nifasi yang enggan namanya di sebutkan mengatakan bahwa di daerah tersebut mereka tidak mendapakan yang seharusnya mereka dapat karena hutan yang di bongkar adalah hak wilayah mereka sendiri.

“Dan setiap pengolahan masyarakat pribumi sendiri tidak boleh melihat hasilnya,” ucapnya.

Dengan ada nya laporan masyarakat ini pihak Imigrasi Mimika mengadakan operasi pengamanan keimigrasiaan pada Kamis (7/6/2018) belum lama ini. Operasi tersebut di pimpin langsung Kakanim Jesaja Samuel Enock Amd, Im. dari Imigrasi Kelas ll Mimika, dimana dalam operasi itu memakan waktu selama empat hari dan di temukan ada dari beberapa orang pekerja dari negara yaitu Korea, Jepang, dan Tiongkok yang bekerja sebagai buruh di perusahaan tambang rakyat di Lagari, Distrik Makimi Kabupaten Nabire.

“Sebanyak puluhan WNA Tiongkok tersebut sudah dievakuasi ke Mimika pada Minggu siang dengan pesawat Garuda Indonesia untuk menjalani pemeriksaan di Kantor Imigrasi Mimika. Sebanyak 37 WNA dan masih ada puluhan orang asing di Nabire, rencananya mereka akan dibawa juga ke Mimika dalam waktu dua sampai tiga hari ke depan," ujar Kepala Kantor Imigrasi Mimika Jesaja Samuel Enock.

Informasi yang dihimpun Enock didampingi sejumlah stafnya langsung mendatangi lokasi perusahaan tambang emas rakyat di Lagari.

Masih katanya, lokasi tambang tempat mereka bekerja sangat jauh dari Nabire, perjalanan dengan mobil. “Itu pun masih jalan kaki lagi karena lokasi tambang ada yang tidak bisa di tempuh dengan mobil ketika hujan turun," beber Samuel.

Puluhan WNA Tiongkok tersebut bekerja pada dua lokasi perusahaan tambang emas rakyat. Dari puluhan WNA Tiongkok itu, ada yang bertugas mengoperasikan alat berat, sopir truk, operator peralatan untuk pemurnian emas. Bahkan ada satu perempuan.

Keberadaan puluhan WNA Tiongkok yang bekerja sebagai buruh di dua perusahaan tambang emas rakyat di Lagari, Nabire diduga melanggar aturan keimigrasian lantaran mereka menggunakan visa kunjungan sebagai wisatawan untuk bekerja.

Jesaja Samuel Enock menambahkan bahwa Imigrasi Mimika mengadakan operasi penegakan keimigrasian di kabupaten Nabire, terkait dalam pelaksanaan UUD No. 6 tahun 2011 dalam keimigrasian. Selama 4 hari masih dalam pengawasan imigrasi di Kabupaten Nabire Distrik Makimi Kampung Legari di temukan dan di amankan 37 WNA asal Jepang, Korea dan China yang mana semuanya ini hanya menggunakan Visa kunjungan, Ijin Tinggal Kunjungan kemudian Visa On Arival.

Dan terhadap pelanggaran tersebut, katanya, diduga melanggar Pasal 122 UU No 6 tahun 2011 tentang keimigrasian, hal yang dilakukan untuk penanganan mereka adalah melakukan pendektesian diruang dektesi dikantor Imigrasi Mimika dan selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan lebih dalam terkait dengan kegiatan dan keberadaan mereka diwilayah tersebut.



Para WNA yang diamankan pihak Imigrasi Mimika Papua 
“Dari ke 37 orang WNA yang dibawa dari Nabire, baru 12 orang yang sisanya akan menyusul," tandas Samuel mengakhiri.

Reporter : adi manopo

SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: