Saturday, June 9, 2018

Bantuan Ponpes Kecamatan Sobang Disinyalir Dipotong Secara Terselubung

MITRAPOL.com - Sebanyak 32 sarana Pendidikan Agama Islam atau Pondok Pesantren yang tergabung didalam Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP). Baru-baru ini mendapatkan bantuan dana hibah sebesar Rp. 20 juta yang dicairkan melalui Bank Konvensional yang ditunjuk Pemerintah Provinsi Banten.

Ilustrasi

Mekanisme penyaluran dana hibah melalui rekening pondok pesantren masing-masing, bertujuan agar dapat mengantisipasi sesuatu permasalahan yang bisa mengurangi jumlah bantuan tersebut.

Meski demikian, bantuan yang telah dicairkan dan diterima oleh guru didik Pondok Pesantren rupanya belum bisa disebut aman dan terjamin bakal utuh sebesar Rp 20 juta.

Seperti menurut informasi dari seorang penerima bantuan yang tidak bersedia ditulis namanya menerangkan, terkait dana bantuan hibah yang sudah dicairkan melalui Bank harus menyisihkan uang sebesar Rp 1,5 juta bagi setiap Ponpes untuk diserahkan kepada pihak pengurus Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kecamatan Sobang.

Hal tersebut tentu saja patut disoroti lantaran pemotongan yang dilakukan secara terselubung didalan forum dikhawatirkan menjadi ajang bancakan bagi para oknum FSPP baik ditingkat kecamatan, kabupaten maupun provinsi.

MITRAPOL.com, belum bisa melakukan konfirmasi cepat, kepada Ketua FSPP Kecamatan Sobang mengingat kesulitan untuk mendapatkan nomor kontak yang bersangkutan, lantaran dari pihak Ponpes tertutup rapat dan sangat tidak bersedia untuk memberikannya.

"Langsung saja datang ke FSPP," tukas narasumber yang enggan namanya disebut itu.

Ditempat terpisah, seorang pimpinan pondok pesantren justru membantah jika uang tersebut dianggap sebagai pemotongan atau pungutan dari pihak FSPP Sobang. Dirinya berdalih bahwa uang tersebut sebagai Infaq untuk pihak FSPP.

"Itu bukan bahasa pemotongan, tetapi Infaq dari para Kiyai (Guru Didik) kepada pengurus FSPP yang sudah mengurusi administrasi persyaratan pengajuan bantuan seperti, akta notaris, piagam dan semua itu kebanyakan ditanggung oleh Ketua FSPP Kecamatan Sobang," pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Tisna Ketua LSM Laskar Banten Reformasi menganggap bahwa bahasa Infaq yang dimaksud merupakan bahasa Kiyai saja?.

"Wajar saja kalau para pengurus ponpes seperti itu. Karena mereka ahli bersyukur dan itu versi Kiyai yang kita harus hargai, mungkin juga karena mereka tidak paham aturan seperti apa, atau bahkan mungkin tidak tahu bantuan itu untuk diapakan jadi seolah-olah sudah mendapat semacam uang kaget,” tandasnya.

Sederhana dan sah saja, sambungnya, jika mereka mau infaq bahkan lebih dari itupun tapi sangat tidak elok apabila Infaq para Kiyai secara terkordinir kepada pihak FSPP," tutup Tisna.

Reporter : cecep sobari

SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: