Breaking News

Tuesday, May 15, 2018

Miris di Kabupaten Pasbar Masih Ada Warga Hidup Sangat Memprihatinkan

Miris di Kabupaten Pasbar Masih Ada Warga Hidup Sangat Memprihatinkan

MITRAPOL.com - Memprihatinkan melihat sebuah rumah gubuk berdinding bambu milik Ujang (40) warga Kampung Darek, Jorong Pasa Lamo, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, kondisinya sangat mengkhawatirkan.



Kondisi rumah yang ditempati Ujang bersama istrinya yang bernama Ria (20) dan kedua anaknya tersebut, kini cukup memprihatinkan. Bangunan dinding rumah gubuk tak layak huni yang memiliki ukuran sekitar tiga kali lima meter ini, hanya menggunakan batang pinang.

Ironisnya, gubuk yang rawan roboh serta dapat mengancam nyawa ini sudah berlangsung selama lima tahun dan belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal keluarga Ujang yang bekerja sebagai buruh tani tersebut sangat mendambakan adanya bantuan untuk membangun rumah ‘reot’ miliknya agar menjadi rumah yang layak huni.

Tapi apa daya, ia dan keluarganya hidup dalam kemiskinan. Semuanya masih sebatas angan-angan bagi Ujang. Jangankan memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan sandangnya pun Ujang harus rela berjibaku dengan waktu. Diusianya yang sudah lanjut usia ini. Tak ayal, dengan kondisi itu pula kini Ujang beserta istri dan anaknya pun masih memilih bertahan tinggal di sebuah rumah yang sudah tampak reyot.

Atap yang semestinya melindungi Ujang beserta keluarganya dari panas terik serta guyuran hujan, kini kondisinya pun sudah rusak.

“Rumah ini sudah kami tempati selam lima tahun. Kami terpaksa tinggal di rumah yang di bangun dari bahan batang pinang dan atap rumbia ini dan kami sudah sering tambal sulam agar ketika musim hujan tidak bocor,” jelas Ujang saat di sambangi Awak media. didampingi tokoh masyarakat kajai Jon dan Sangkot di rumah kediamannya.

Jika hujan datang sejumlah baskom akan berteteran di lantai rumah ujang. jika tidak ditampung dengan baskom maka air hujan akan membanjiri bagian dalam rumah ujang. Dengan keadaan rungan yang sempit terpaksa ember hingga pakaian kotornya berserakan di tiap sudut ruang.

Tak heran, kondisi yang terkesan kumuh itu pun sempat mengundang hewan liar berupa ular masuk ke dalam rumahnya. Namun bukannya menimbulkan rasa resah terhadap Ujang dan keluarganya. Melainkan mereka menganggap sudah hal biasa menemui hal seperti itu.

“Ya di sinilah kami tidur. Kalau hujan ya terpaksa harus berlindung. Karena tak seluruhnya atap menutupi ruangan ini. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga kami tak mampu membangun rumah. Sebab, saya bersama istri yang bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menetu. Itu pun kalau di suruh warga untuk memanen sawit dan memotong karet, kalau tidak ada yang menyuruh saya harus rela bersabar dengan kondisi seperti ini,” lirih Ujang.

Reporter : efrizal

Disclaimer: