Monday, May 14, 2018

Jaringan Telkomsel Lelet, DPRD Malra Diduga Tutup Mata

MITRAPOL.com - Konektifitas Jaringan Telkomsel memprihatinkan masyarakat Evav/Kei (Maluku Tenggara). Hal ini dikatakan Leonardus Yamlean saat ditemui di Ohoililir Kecamatan Manyew Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Minggu, 13 Mei 2018.

Laurens Yamlean Ketua Pemuda Ohoililir.

Leonardus Yamlean Ketua Pemuda Ohoi Ohoililir sungguh sangat kesal terhadap para pihak pengelola Telkomsel di Kabupaten Malra karena Ohoililir dan Pasir panjang sebagai objek Wisata ternama di Kabupaten Maluku Tenggara tidak serius melakukan oprasional pengelolaan jaringan Telkomsel dan di kedua lokasi wisata ini tak tersentuh jaringan Telkomsel.

“DPRD Malra selama ini selalu tutup mata dan ketika ada ivent Festival Pesona Meti Kei (FPMK) baru pasang cepat-cepat, kemudian usai kegiatan dicabut lagi,” bebernya.

Dirinya merasa bahwa hal ini merupakan permainan pihak pengelola untuk meraup keuntungan lebih besar dari masyarakat Kei Maluku Tenggara. “Karena jika jaringan tidak bagus kemudian para pemakai telepon seluler mengakses internet ternyata lama mengkibatkan secepat mungkin kehabisan paket data,” kata Laurens.

Laurens menambahkan juga bahwa bukan saja di Ohoililir dan Pasir Panjang namun di Langgur Ibu Kota Kabupaten Maluku Tenggara ternyata beberapa tower Telkomsel tidak berfungsi, karena lampu tower pun tidak nyala termasuk Tower yang ada di Yafawun dan diantara Wain dan Rumat.

Masyarakat di Kecamatan Kei Kecil Timur kecuali Jasirah Ohoi Wain, Semawi dan Ibra, Ngabub dan Disuk masih terlayani dengan baik tapi Rumat sampai di Danar sangat sulit karena tidak ada perhatian Pemerintah Daerah maupun para pihak pengelola Telkomsel. Hal ini disebabkan karena mungkin menggunakan system pasang cabut.

“Ironisnya harga pulsa Rp 5 ribu naik menjadi Rp. 8 ribu, Rp 10 ribu menjadi Rp. 13 ribu dan seterusnya sementara di Jakarta masih berada pada Rp. 6 ribu kemudian pulsa Rp 10 ribu hanya Rp. 11,750, dan setrusnya. Kemudian Tarif SMS melonjak dari Rp.160 menjadi Rp 300/SMS apalagi beli pulsa Rp 5 ribu, telpon 2 menit sudah habis jika dibandingkan dengan keadaan di Indonesia bagian Tengah dan Barat, pertanyaannya apa kami di Maluku dan Papua tidak boleh memiliki perlakuan yang sama bahkan harus selalu diperlakukan seperti ini??,” ucapnya kesal.

Untuk itu Laurens minta agar DPRD Maluku Tenggara sesegera mungkin mengundang para pihak pengelola Telkomsel untuk mempertanggung jawabkan hal ini. Karena pihaknya merasa tidak patut Telkomsel sendiri yang beroperasi di Maluku Tenggara tapi harus ada dari pihak lain seperti XL yang sudah pernah beroperasi di Kei.

Reporter : nor safsafubun

SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: