Sunday, March 11, 2018

Pernyataan IYL Atas Gagasan Cemerlang NH Memekarkan Gowa, Marlin : Ini Bukti Masih Amatiran dan Tendensius Emosional

MITRAPOL.com - Pernyataan IYL atas gagasan cemerlang NH untuk memekarkan Gowa dinilai bukti IYL masih amatiran dan tendensius emosional. Pendiri Generasi 145 Sulaweai Selatan, Marlin angkat bicara, mengenai Isu Pemekaran Gowa. 

Marlin

Mantan Aktivis "Miskin" Kota ini mengatakan bahwa sebelum kita bicara Kabupaten Gowa mestilah masyarakat dan semua pihak disadarkan dan diingatkan ulang bahwa kabupaten ini kurang lebih 10 Tahun diduduki SYL, dimana pernah menjadi Bupati sebelum menjadi Gubernur Sulsel, dilanjutkan adiknya yakni IYL 10 Tahun juga atau dua periode, kemudian dilanjutkan lagi 3 tahun Anaknya, yakni Adnan Purichta IYL, sebagai bupati hingga saat ini.

"Kenapa agar semua pihak bisa melihat secara proporsional maka dari itu kami menilai Gagasan dan Pernyataan Pak NH untuk memekarkan Gowa adalah langkah brilliant dan berani serta memperlihatkan keberpihakan beliau kepada Rakyat Kota dan dataran Ketinggian Gowa, oleh karena gagasan ini murni dan lahir dari aspirasi masyarakat Gowa sendiri yang datang berbondong-bondong ingin bertemu Tokoh Nasional milik Sulsel ini, pada saat acara sosialisasi Partai Golkar di Gowa beberapa waktu lalu," kata dia.

Terkait bahwa Nurdin Halid belum memiliki pengalaman menjadi Bupati sehingga tak elok bicara tentang kabupaten oleh IYL, masih katanya, justru kami nilai sangat tendensius dan emosional, oleh karena Pak IYL saat maju bertarung menjadi calon Bupati di tahun 2005 silam juga belum punya pengalaman menjadi Bupati.

"Bila itu lahir dari aspirasi masyarakat maka seharusnya IYL tidak usah mengevalusi dan mengomentari terlalu jauh pernyataan NH, justru seharusnya dia mengevaluasi diri sendiri dan menjadikan aspirasi ini sebagai cambuk untuk mengevaluasi apa yang salah selama ini, dan apa yang telah dilakukan nya selama dalam kurun 10 tahun pernah menjabat Bupati Gowa," tutur Marlin.

Bukan hanya pemekaran saja yang menjadi aspirasi mereka, Masyarakat Gowa yang mendatangi NH juga menyampaikan uneg-unegnya terkait soal infrastruktur jalan dataran tinggi dan poros utama, terutama Jalan Malino-Sinjai yang banyak kubangan, dimana lampu penerangan jalan yang kurang memadai, bahkan ada beberapa titik tidak ada sama sekali sehingga menyulitkan warga beraktivitas di malam hari dan terkadang dari warga masyarakat sering mengalami kecelakaan di jalan.

Selain itu Marlin pula menambahkan, dalam rilisnya, Sabtu malam, (10/03/2018) sekira pukul 21:00 Wita, kepada mitrapol.com melalui WhatsApp. Mereka juga mengeluhkan soal sistem pendidikan di Gowa yang dikenal dengan sistem SKTB atau (Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan) sistem ini selalu di elu-elukan pak Ichsan dulu bila berkampanye di daerah-daerah lain.

"Mereka justru menilai sistem buatan Pak Ichsan ini telah menjauhkan anak-anak Murid/Siswa sekolah dari Norma adat dan tatakrama serta rasa hormat kepada Guru dan Orang tua murid, selain itu mereka juga menysampaikan bahwa masih banyak siswa di Gowa yang masih buta huruf tak tahu membaca, sukanya bolos di jam belajar dan berani melawan guru, meskipun seperti itu mereka mengatakan siswa/murid tidak mendapatkan sanksi apapun dan tetap naik kelas," bebernya.

Permintaan terparahpun mereka sampaikan ke Nurdin Halid adalah mereka meminta untuk dibebaskan dari intimidasi dan kekuasaan Dinasti Politik YL, mereka menilai Dinasti Politik YL telah memberangus adat dan sejarah kebesaran kerajaan Gowa masa lalu dengan adanya Perda LAD dan diangkatnya Bupati Gowa Adnan Purichta IYL menjadi Ketua Lembaga Adat Kerajaan Gowa sekaligus menjadi Raja Gowa (sombaya ri gowa). Setahu mereka Lembaga Adat Daerah memang adalah Perintah UU, namun dalam hal ini Bupati hanya sebatas fasilitator dan Pembina Lembaga Adat Daerah bukan justru sebaliknya melantik dirinya menjadi Raja Gowa tanpa pernah melibatkan lebih jauh pihak adat dan kerajaan dalam hal pembahasan PERDA LAD ini.

Mantan aktivis Buruh yang juga mantan aktivis HMI Cabang Gowa Raya ini menyampaikan bahwa dirinya ini salah satu korban dari Gowa yang salah urus dan juga menjadi korban janji-janji palsu SYL tahun 2007 saat akan bertarung dalam Pemilihan Gubernur kala itu.

Dimana SYL pernah menjanjikan ke kami pertama untuk mengembalikan Barombong ke Kabupaten Gowa, tapi alih-alih Barombong yang dikembalikan malah Kecamatan Pallangga yang dimekarkan menjadi dua kecamatan dan membuat satu kecamatan baru dengan memakai nama Barombong sementara Barombong yang asli masih masuk dalam wilayah administrasi Kota Makassar.

"Yang kedua adalah Desa Saya (kampung Desa Lembang Parang) yang di masa pemerintahan Pak Ichsan dipaksakan menjadi kelurahan meskipun desa kami masyarakatnya masih 90% hidup dari sawah dan pertanian, pada saat itu saya bersama 1.000-an warga Desa turun melakukan penolakan dan perlawanan dalam bentuk melakukan aksi di DPRD Gowa dan kantor Bupati Gowa, namun alih alih jangankan tuntutan kami diterima saat itu, Pak Ichsan pun tidak pernah sekalipun menemui dan menerima perwakilan kami untuk membicarakan solusi dari persolan aspirasi kami," terangnya.

Untuk itu, lanjutnya, kami hanya meminta seluruh competitor di Pilgub Sulsel yang akan datang untuk saling bisa berkompetisi secara sehat jangan ada yang curang dan jangan menghadirkan pernyataan-pernyataan yang menjatuhkan dan mengkerdilkan calon lain karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. 

"Harapan kami sampaikan kepada seluruh Calon tanpa terkecuali, agar bisa bertarung dan beradu lewat gagasan, ide dan program demi memajukan Sulawesi Selatan yang kita cintai ini," tutupnya.

Reporter : mir

SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: