Thursday, December 7, 2017

Museum Fatahilah Jakarta Dulu Kantor Gubernur Ali Sadikin

MITRAPOL.com – Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat, saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah Kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Kawasan Kota Tua Jakarta

Hasil penelusuran MITRAPOL.com di kawasan Kota Tua Jakarta, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, pukul 10 : 00 Wib, Rabu (6/12/2017). Kota Tua Jakarta, menyimpan banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) cagar budaya peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda, Jakarta.

Sebelum menjadi Museum Fatahilah, gedung ini adalah kantor Gubernur Ali Sadikin pada masa dirinya menjabat. Gedung ini diresmikan menjadi Museum Fatahilah dan langsung diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin, di Museum Fatahilah Jakarta 30 Maret 1974.

Kota Tua Jakarta, daerahnya berbatasan sebelah utara dengan Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kalapa dan Laut Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka, sebelah Barat berbatasan dengan Kali Krukut dan sebelah Timur berbatasan dengan Kali Ciliwung.

Kota Tua Jakarta di masa lalu merupakan kota rebutan yang menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Tak heran jika mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda-Pajajaran, Kesultanan Banten-Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu di negara ini.



Pada 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa, Tahun 1619. VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen, satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda.

Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Penduduk Batavia disebut “Batavianen”, kemudian dikenal sebagai suku Betawi, terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia, pada 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal, Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650.
Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur, kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk.

Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka), Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia hingga sekarang.

Pada 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana.


Museum Bank Indonesia terletak tidak jauh dari Museum Fatahilah Jakarta, didepan atau dihalaman terlihat Meriam si Jagur, diatas tulisan "Ex Me Ipsa Renata Sum" yang berarti "Aku diciptakan dari diriku sendiri,".

Reporter : sugeng/muklis
Editor : andrey




SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: