Sunday, November 19, 2017

Tutup Akses Jalan Lintas Sumatera Jadi Adat Warga Jalinsum Berunjuk Rasa

MITRAPOL.com - Jalan lintas Sumatera, atau di sebut juga Jalinsum Sarolangun-Musi Rawas selalu tak aman. Selain rawan tindakan kriminal, seperti bajing loncat, akses jalan juga sering diblokir warga. Malam ini, pemblokiran kembali terjadi di Jalinsum, tepatnya di Desa Karang Anyar, Muratara, Sumsel.

Daerah Jalinsum sudah tak aman di lalui kendaraan.

Tradisi menutup jalan lintas, nampaknya merupakan solusi bagi masyarakat dalam pemecahan masalah. yang sedang di hadapi.

Aksi demo tutup jalan terus-menerus terjadi tanpa dapat dicegah oleh pemerintah dan aparat hukum yang ada di daerah ini. Pemblokiran ini buntut dari insiden penembakan yang menimpa seorang warga bernama Yupir, warga Karang Anyar. Keterangan Versi warga, Yupir menghilang di sungai daerah itu sejak 5 hari lalu. Warga menyebutkan jika Yupir sempat di tembak oknum aparat.

“Hingga kini mayatnya belum ditemukan. Itu memicu kemarahan warga,” ujar Ilham, warga sekitar.

Ia menegaskan warga sangat kesal dengan aparat kepolisian. Warga mengancam tidak akan membuka jalan lintas sampai mayat Yupir ditemukan. “Warga juga minta oknum polisi yang menembak Yupir bertanggungjawab,” katanya.

Hingga saat ini warga dan tim Basarnas terus melakukan pencarian.

Informasi lain menyebutkan, jika Yupir terlibat kasus dan sempat bermasalah dengan aparat kepolisian. Kemudian, sehari sebelumnya, yakni Jumat (17/11/2017) aksi demo blokir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dilakukan santri Pondok Pesantren At Tauhid, Desa Maur, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara.

Puluhan santri memblokir jalan dan membakar ban, duduk ditengah jalan dengan spanduk bertuliskan “Bebaskan Ustad Zul Kifli” dari tahanan. Mereka mendesak Ustad dibebaskan sebab menurut mereka Ustad Zulkifli tidak bersalah.

Ustadz Zulkifli merupakan pengasuh Pondok Pesantren At Tauhid, Desa Maur Lama, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara. Ia dilaporkan dan telah ditahan di Mapolsek Rupit.

Perbuatannya diketahui setelah Santri (korban) bercerita kepada orang tuanya, bahwa Z memanggil korban keruangan dan mengancam jika ingin naik kelas harus mau dipegang-pegang.

Emosi keluarga korban memuncak, tidak terima perlakuan tersebut dan melaporkannya ke polisi.

Kapolres Musi Rawas, AKBP Pambudi melalui Kapolsek Rupit, AKP Yulkifli saat dikonfirmasi membenarkan adanya laporan pencabulan dan tengah melakukan pengembangan kasus.

Sementara itu, dampak aksi blokir Jalinsum ini, mengakibatkan kemacetan dan hambatan. Karena warga melakukan penutupan jalan dari dua arah. Pengendara yang ingin melintasi Jalinsum Muratara, terpaksa menepikan kendaraannya di sepanjang jalan.

“Jelas kami terhambat, kasihan ada penumpang yang mungkin ada hajat di Jakarta,” ucap Iin, salah seorang sopir bus AKAP yang hendak berangkat ke Jakarta.

Lanjut Iin, mereka para sopir bus AKAP, bingung jika hendak melintasi Jalinsum Muratara. Sebab selain rawan, dan masyarakat yang berdemo selalu memblokir jalan.


“Kalau mau demo jangan selalu menutup jalan. Yang lewat sini banyak, dari Aceh, dari Padang, dari Medan semua melintas di sini,” pungkasnya.

Reporter : efrizal




SHARE THIS
Facebook Comment

0 komentar: