Berita Terkini

Monday, October 23, 2017

Camat Pante Bidari Buka Musyawarah Antar Desa (MAD)

Camat Pante Bidari Buka Musyawarah Antar Desa (MAD)

MITRAPOL.com - Acara sosialisasi program pelaksanaan inovasi desa dan musyawarah antar desa (MAD) di Kecamatan Pantee Bidari Kabupaten Aceh Timur hadir di cara tersebut tenaga ahli program pemberdayaan pembangunan masyarakat desa (TA P3MD) Saifuddin Abbas, dari kepolisian hadir Kapolsek Pante Bidari, Ipda Arianto St.P, dari Danramil Pantee Bidari di wakili oleh Pelda Dalkot Siregar, Kepala Desa 25 Desa di dalam Kecamatan Pantee Bidari dan hadir juga Muslim At.



Camat Pantee Bidari M. Nasir Sp, dalam pembukaan sosialisasi dan musyawarah antar desa berpesan agar pemilihan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) agar di pilih orang-orang yang berkompeten dan aktif di dalam masyarakat.

Saksikan Videonya Disini

“Supaya apapun potensi nya dapat di kembangkan baik di tingkat desa maupun di tingkat kecamatan dan provinsi,” ungkap Camat kepada MITRAPOL.com.

Tokoh perempuan 25 orang dan tokoh pemuda 25 orang, pendamping lokal desa dan pendamping desa (PLD/PD) yang menjadi panitia pelaksanaan acara tersebut, Zulkifli Aneuk Syuhada sebagai MC dalam acara tersebut.


Acara di isi dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh M. Nasir, pembukaan sosialisasi dan musyawarah antar desa di buka oleh M. Nnasir Sp Camat Pantee Bidari, dan sosialisasi program pelaksanaan inovasi desa di paparkan oleh Saifuddin Abbas TA P3MD.

Reporter : zulkifli
Raffi Bocah Empat Tahun Dijemput Kakeknya

Raffi Bocah Empat Tahun Dijemput Kakeknya

MITRAPOL.com - Jumanto menjemput sang cucu bernama Raffi berumur 4 Tahun yang diduga dengan sengaja ditinggalkan oleh ayahnya, diterima langsung oleh satuan pelaksana pelayanan Panti Sosial Bina Insan (PSBI), Bangun Daya II Cipayung, Jl. Bina Marga No. 48, RT.002, RW.004, Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur, Senin (23/10/2017).



Sahrul mengungkapkan, Raffi bocah 4 Tahun asal Cilebut, Bogor yang ditemukan Pekerja Penanganan Sarana dan Prasana Umum (PPSU) di Kawasan Pasar Rabo pada hari Sabtu, 21 Oktober 2017, petugas PPSU kemudian membawa Raffi ke Posko Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial Jakarta Timur.

“Raffi ditinggalkan begitu saja oleh seorang pria yang diduga ayahnya keterangan ini disampaikan oleh pedagang kopi yang melihat saat ditanya petugas, sebab bocah ini datang bersama seorang pria diduga ayahnya dan tidak begitu lama pria tersebut pergi meninggalkan anaknya dengan alasan membeli pulsa, namun pria itu tidak pernah kembali untuk mengambil anaknya," ungkap Sahrul.

Dari alasan Jumanto sangat bertentangan bahwa Randi (ayah) memang pergi pada hari sabtu lalu, ia tidak sadar diikuti oleh Raffi (anaknya) sejak dari rumah.

"Bapaknya bilang tidak sadar diikuti anaknya," kata Sahrul.

Jumanto mewakili pihak keluarga menjemput cucu yang bernama Raffi Pratama Saputra dengan membawa bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluraga (KK) serta Akte Kelahiran Raffi, yang dikeluarkan Klinik dan Rumah Bersalin Citama (28/6/2017), “anak sulung dari pasangan Pipih Sartika Dewi dan Randy Kusuma Saputra, karena tidak bisa datang orang tuanya sangat sibuk," ucapnya.


Raffi Pratama Saputra diserahkan kepada pihak keluarga setelah semua berkas dicek sesuai alamat Jl. Cilebut Pos, RT. 004, RW. 002, Kelurahan Cilebut Timur, Kecamatan Sukaraja, Bogor, Jawa Barat, setelah Jumanto bisa membuktikan jika ia adalah kakek Raffi.

Reporter : sugeng
Pahami Jenis Narkoba, Upaya Minimalisasi Penggunaan

Pahami Jenis Narkoba, Upaya Minimalisasi Penggunaan

MITRAPOL.com - Penggunaan dan peredaran narkoba semakin hari semakin marak, bahkan saat ini peredaran narkoba sudah menyasar ke anak-anak di sekolah. Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir penggunaan narkoba, khususnya peran keluarga sangat dibutuhkan.



"Rata-rata mereka yang terjebak pada penggunaan narkoba ini karena tidak paham dampak atau efek dari memakai narkoba, oleh sebab itu peran keluarga sangat penting untuk meminimalisir pemakaian narkoba di lingkup keluarga," ujar Ketua Asosiasi Rehabilitasi Sosial Narkoba Indonesia (AIRI), Dr Aisyah Dahlan di sela kegiatan Seminar Sehari Dengan Tema "Peran Harmoni Keluarga Dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkoba" di Auditorium Pemkab Muba, Senin (23/10).

Menurutnya, orang tua sesekali diperlukan untuk memberikan pemahaman bahaya narkoba dengan anak-anak supaya tidak terjebak dan terjerumus pada penggunaan narkoba. "Kita harus sepakat kalau narkoba ini sangat merusak dan mengancam keselamatan hidup," urainya.

Ia menambahkan, setiap keluarga perlu mengikutsertakan anak-anaknya untuk ikut serta pada kegiatan seminar-seminar tentang pemahaman bahaya narkoba. "Jadi, pemikiran bisa terbuka dan paham akibat dari bahaya narkoba," tukasnya.

Sementara itu, Bupati Muba H. Dodi Reza Alex Noerdin didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Muba Hj. Thia Yufada Dodi Reza mengatakan Pemkab Muba bersama FKPD akan terus komitmen memerangi narkoba. "Ya, penggunaan narkoba ini harus terus ditekan terutama di desa-desa, dan untuk memeranginya sangat diperlukan peranan keluarga," terangnya.

Lanjutnya, peran keluarga sangat vital untuk meminimalisasi penggunaan narkoba. "Keluarga benteng terdepan untuk meminimalisir narkoba, semoga seminar ini bisa memberikan pemahaman yang baik supaya masyarakat di Muba konsisten untuk menjauhi narkoba," pungkasnya.


Pada kegiatan Seminar Sehari dengan Tema "Peran Harmoni Keluarga Dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkoba" di Auditorium Pemkab Muba tersebut juga turut dihadiri Wakil Bupati Muba Beni Hernedi dan istri, Kapolres Muba beserta istri, dan 220 peserta dari sekolah dan staf OPD Pemkab Muba.

Reporter : suharto
Tiga Pilar Batang Gotong Royong di Program PMI

Tiga Pilar Batang Gotong Royong di Program PMI

MITRAPOL.com - Polsek Warungasem Polres Batang Polda Jawa Tengah dan Koramil bersama Muspika turut berpartisipasi bergotong royong dalam Program PMI Batang tahun 2017 membongkar rumah tidak layak huni (RTLH) bagi keluarga tidak mampu satu rumah satu kecamatan.



Sudah delapan RTLH yang telah dibongkar dan menjadi rumah yang layak huni. Kali ini PMI Batang melakukan bongkar rumah milik Teguh Siam Santoso warga Desa Pesaren Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang.

Ketua Pengurus PMI Kabupaten Batang Achmad Taufiq, SP., M.Si yang diwakili Kusnadi mengatakan program bedah rumah seperti ini di harapkan dapat meringankan beban pada warga kurang mampu, kehidupan seorang diri yang tinggal semata wayang.

"Mudah-mudahan dapat membantu dan bermanfaat bagi bapak Teguh yang nantinya dapat menempati rumah sehat yang layak huni," katanya.

Pemilik rumah Teguh mengatakan merasa sangat tertolong dengan bantuan dari PMI Batang dan swadaya masyarakat membongkar rumahnya yang masih berupa kayu dan dalam kondisi sudah seharusnya diperbaiki. Tetapi dirinya secara pribadi tidak mampu.

“Saya tidak mengira akan mendapat bantuan, karena untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja masih sulit pak. Saya ucapkan terimakasih bantuan dari PMI Batang dan swadaya masyarakat Desa Pesaren ini sangat membantu sekali,” jelasnya.

Camat Warungasem Drs. Fatoni, mengatakan program bedah Rumah ini wujud kepedulian Muspika Kecamatan Bawang beserta PMI Kab. Batang yang ditujukan kepada warga kurang mampu agar dapat hidup layak sejajar dengan warga lainya.

"Minimal dapat menempati rumah yang layak huni serta sehat, kedepanya warga Kecamatan Warungasem harus lebih baik dan dapat hidup sejahtera," kata Fatoni.

Kepala Desa Pesaren H. Kasdiun mengapresiasi petugas keamanan turut serta membantu bergotong royong.

“Kami ucapkan terimakasih kepada Koramil dan Polsek Warungasem serta PMI dalam bedah rumah. Jelas hal ini sangat membantu warganya,” ucapnya.

Terpisah Kapolsek Warungasem AKP Akhmad Almunasifi S.H., mengatakan kami turunkan personel untuk turut bergotong royong meringankan pekerjaan berat selain itu sebagai bentuk empati.

"Kita tanamkan kepedulian pada anggota dengan lingkungan sekitar, untuk mewujudkan kedekatan polri dengan masyarakat," kata Kapolsek saat ditemui Sabtu (21/10).

Kasi Humas Bripka Trigusmantoro menambahkan dengan guyub rukun semua komponen masyarakat pekerjaan berat apapun akan cepat selesai," imbuhnya.

Reporter : irul
Puluhan Juta Uang Palsu Diamankan di Polres Batang

Puluhan Juta Uang Palsu Diamankan di Polres Batang

MITRAPOL.com - Jajaran Polsek Wonotunggal Polres Batang Polda Jawa Tengah, mengamankan uang palsu dan mainan dengan total hingga puluhan juta rupiah, Sabtu (21/10). Uang tersebut hasil penemuan dari tiga siswa MI Brayo, Dukuh Ujungbiru, Desa Brayo, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang.



Kapolres Batang AKBP Edi S. Sinulingga S.I.K., melalui Kapolsek Wonotunggal AKP Donni Krestanto S.Kom., membenarkan kejadian tersebut. "Mereka menemukannya di ranting pohon Cemara depan Sekolah setempat lalu melaporkannya ke Polsek Wonotunggal," ungkap Kapolsek saat ditemui, pada Senin (23/10/17).

Kapolsek Wonotunggal Polres Batang AKP Donni Krestanto menjelaskan kronologi penemuannya, sekitar pukul 07.00 WIB ada tiga siswa di sekolah itu sedang dalam perjalanan ke sekolah. Ketika melewati pohon, mereka melihat ada plastik warna hitam yang berada di ranting. Kemudian kantong plastik ini di ambil salah satu siswa karena penasaran isi barang tersebut.

"Setelah dibuka, ternyata isinya berupa uang palsu dan uang mainan. Selanjutnya dia memberitahu Kepala Sekolah setempat, kalau mereka bertiga telah menemukan kantong plastik warna hitam yang berisi uang palsu dan uang mainan," jelas Kapolsek.

Setelah mengetahui, saksi terakhir meminta kepada salah satu temannya, Hasanudin warga setempat membawa kantong barang temuannya itu ke Polsek Wonotunggal. Setelah diterima dan diperiksa petugas kepolisian setempat, hasil temuan itu berupa uang palsu senilai Rp. 11.850.000. dengan rincian 118 lembar pecahan uang seratus ribu rupiah dan 1 lembar pecahan uang lima puluh ribu rupiah.

Kemudian uang mainannya senilai Rp. 20.020.000 dengan rincian 200 lembar pecahan uang seratus ribu rupiah dan 2 lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah.

Di samping itu, di dalam kantong plastik warna hitam juga ditemukan 2 buah mainan berbentuk hewan babi dan berbentuk menyerupai dewa, lalu 2 mainan berbentuk naga serta 5 batu warna putih.


Kapolsek Wonotunggal AKP Donni Krestanto mengatakan untuk sementara ini semua barang bukti masih diamankan di tempat kerjanya. Kemudian pihaknya juga bekerjasama dengan jajaran Reskrim Polres Batang dalam rangka mengusut dan menindaklajuti penemuan uang palsu dan mainan ini.

Reporter : irul
Jurnalis Media Elektronik Nasional Pelopori Pemberdayaan Petani Serai Wangi Aceh Selatan Secara Swadaya

Jurnalis Media Elektronik Nasional Pelopori Pemberdayaan Petani Serai Wangi Aceh Selatan Secara Swadaya

MITRAPOL.com - Anharullah yang akrab dispaa Aan, tokoh muda yang berdomisili di Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan, berprofesi sebagai Jurnalis di salah satu Media Elektronik Nasional kini mempelopori pemberdayaan masyarakat petani dengan program budidaya Serai Wangi.

Anharullah saat di lokasi budidaya serai wangi.

Saat ditemui MITRAPOL.com, Senin (23/10/2017) di Gampong Kuta Baro, Kecamatan Sawang, Kebupaten Aceh Selatan. Aharullah yang cukup dikenal oleh masyarakat, dirinya banyak menceritakan latar belakang masyarakat petani, kiprahnya selama ini dibeberapa Lembaga dan juga sebagai Jurnalis di salah satu stasiun TV Nasional ternama di Indonesia. Namun yang paling menarik perhatian saat itu adalah keberanian Anharullah merealisasikan pemberdayaan petani melalui program budidaya Serai Wangi (Cymbopogon Nardus L) secara swadaya.

Usai menjamu dan ngopi dirumah warga yang jadi anggota binaannya, Aan mengajak MITRAPOL.com ke beberapa lokasi kebun serai wangi milik warga yang jadi bagian dari program pemberdayaannya. Saat itu MITRAPOL.com tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan karya Aan, sambil terus ngobrol tentang budidaya serai wangi yang sedang dia kembangkan saat ini.

Dalam obrolan yang serius namun ringan bahkan sesekali terkesan konyol pemaparan Anharullah cukup membuat sangat berkesan, dia menggunakan bahasa yang sangat sederhana dan cukup mudah di fahami.

Mungkin gaya dan cara dialog seperti ini membuat masyarakat sekitar desa binaan nya sangat akrab dan lengket dengan sosok pemuda yang sangat ramah ini. Namun kali ini pemuda yang terkenal dengan slogan “Ini Filosofiku dan Canduku” sebagaimana yang selalu mewarnai setiap statusnya di medsos. Berikut petikan wawancara MITRAPOL.com dengan Anharullah.

Apa yang memotifasi Anda hingga terjun melakukan pemberdayaan kepada petani secara swadaya dengan program budidaya serai wangi?
“Awalnya aku senang bersilaturahmi dengan masyarakat dari kampung-kekampung. Bercanda dengan mereka, mendengar cerita mereka dan mendengar keluhan-keluhan mereka. Nah karena masyarakat kita sebagian besar yang aku jumpai Petani dan Pelaut, maka mulai tergerak hatiku untuk mencari solusi keluhan-keluhan mereka,” papar Aan.

Masih katanya, Saya tidak sendiri Sukardi Tamrin yang juga warga Aceh Selatan, yang telah melakukan budidaya serai wangi di lahannya seluas 15 hektar, hubungan sesama teman dan selalu berdiskusi tentang sereh wangi ini mulanya dari saudara Sukardi.

“Walaupun saya jauh-jauh hari hampir tiap hari selama kurun waktu lima tahun berada ditempat penghasil minyak atsiri ini yaitu Gayo Lues. Apalagi beliau juga punya relasi pemasaran hingga ke benua Eropa, lalu terfikirlah olehku menjadikan budidaya serai wangi sebagai solusi atas keluhan-keluhan petani di kampungku dengan menjadikan ini program pemberdayaan secara swadaya. Dengan demikian para petani jadi termotivasi dan terbantu,” jelasnya.

Sejak kapan?
“Program budidaya serai wangi ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun terakhir dengan segala hambatan terus memotivasi masyarakat dan memberikan pemahaman bahwa sere wangi ini bisa jadi produk unggulan masyarakat selain pala,” imbuhnya.

Kenapa harus serai wangi?
“Karena budidaya serai wangi ini gak susah, gak perlu modal yang besar, perawatanya pun gak sulit, masa panennya cukup singkat dan harga jual dari minyak serai wangi ini juga cukup tinggi dan kebutuhan dunia juga sangat banyak,” ucap Aan.

Apa saja syarat bagi petani yang ingin jadi bagian program pemberdayaan ini?
“Pastinya harus ada lahan. Selain itu, yang tak kalah penting adalah keyakinan dan kemauan dalam berusaha,” tegasnya.

Tahapan pemberdayaan budidaya serai wangi yang dilakukan dimulai dari mana sampai ketahap mana?
“Aku bersama sahabat ku memfasilitasi mulai dari pengadaan bibit, pengadaan penyulingan sampai dengan pemasaran,”bebernya.

Pada tahap penyulingana atau pengukusan apakah anda tidak khawatir akan berdampak buruk terhadap lingkungan?
“Oohh tidak sama sekali, malah saya akan menanam kayu pinus dilokasi penanaman sere itu sendiri. Itu semua menghindari dari penebangan kayu secara massal dan sangat irit apabila menggunakan kayu pinus tersebut, Kedepan kita akan upayakan moderenisasi proses penyulingan dengan menggunakan listrik. Tapi kalau kondisi listrik didaerah kita masih gak stabil seperti ini, ya gak bisalah. Bukannya dapat untung malah bunting,” ungkapnya sambil tertawa.

Selama ini sudah berapa banyak yang mengahasilkan?
“Alhamdulillah sudah dua hektar serai wangi yang sudah kita panen dari lahan petani binaan kita,” ungkapnya.

Apakah ada kendala dalam pengembangan program yang dilakukan?
“Kendala sebenarnya datang dari para petani sendiri. Maksudnya selama ini pemikiran mereka dalam bertani hanya sebatas untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan bertani untuk industry atau jadi petani produktif. Pemikiran petani yang seperti inilah yang ingin aku coba giring melalui program pemberdayaan ini,” pungkasnya.

Selain serai wangi apakah ada program lain yang anda lakukan secara swadaya untuk pemberdayaan petani?
“Ada.. budidaya bebek petelur dan budidaya ikan air tawar,” ucap Aan.

Jika ada petani di luar Kecamatan Sawang ingin jadi bagian dari program pemberdayaan Anda, apakah bisa diterima?
‘’Bisa, Insya Allah,” dengan bangga Aan menjawab.

Apakah Anda pernah mengajukan permohonan kepada pemerintah terkait program yang disebutkan tadi?
“Untuk program-program itu, sampai sekarang belum pernah. Pemerintah belum mau melirik dengan tanaman satu ini,” tukasnya.

Apa harapan anda kepada pemerintah?
“Saya berharap kepada pemerintah untuk lebih serius memperhatikan petani, kita tidak menafikan bantuan pemerintah kepada petani juga pada nelayan itu ada memang, namun kadang Petani dan nelayan selama ini hanya di jadikan objek politik saja, kepentingan dan objek pencintraan, Petani gak butuh bahasa “lebay” dari pemerintah atau yang mereka butuhkan bukan sekedar bantuan. Mereka juga butuh pendampingan secara reguler, mereka butuh pengawasan dan bimbingan secara berkesinambungan, dan mereka butuh pemberdayaan yang benar-benar sampai terarah, yang dapat membuat petani mandiri dan berdikari. Hingga nanti mereka dapat membantu petani lainnya yang masih kurang beruntung, dengan demikian pekerjaan pemerintah akan jadi ringan juga nantinya,” tukasnya.

Anharullah (kaos merah), bersama petani binaan dilokasi  budidaya bebek petelur dan ikan air tawar.

Untuk diketahui Serai Wangi (Cymbopogon Nardus L) merupakan salah satu jenis tanaman minyak atsiri, yang tergolong sudah berkembang. Dari hasil penyulingan daunnya diperoleh minyak serai wangi yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil.

Reporter : zulkifli
Harga  Gas Melon Melambung Tinggi, Masyarakat Minta Aparat Tingkatkan Pengawasan

Harga Gas Melon Melambung Tinggi, Masyarakat Minta Aparat Tingkatkan Pengawasan

MITRAPOL.com - Gas Subsidi Elpiji 3 kilogram di beberapa Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur sejak sebulan terakhir dilaporkan langka. Selain langka, gas tersebut juga kerap dijual dengan harga yang sulit terjangkau.



Seperti disampaikan oleh TKSK Pantee Bidari Abdullah Husen T. Muda, gas elpiji 3 kilogram itu rata-rata dijual di atas Rp 35 ribu. Sedangkan gas 3 Kg namanya indah sekali bila kita sebutkan, “Subsidi Untuk Masyarakat Miskin“, tetapi kita lihat dan kita dengar dari masyarakat membeli dengan harga melambung tinggi.

“Dikemanakan subsidi tersebut, siapa yang salah dan siapa yang benar,” ungkap Abdullah Husen T. Muda kepada MITRAPOL.com, Senin (23/10/2017).

Harga tersebut tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah, harga gas yang dijual di sejumlah kios pengecer memang di atas Rp 35 ribu.

“Harga segitu tergolong mahal bagi kami masyarakat miskin. Sebab kami tahu harga pemerintah tidak demikian dan gas itu jelas-jelas disubsidikan untuk masyarakat miskin," kata Yusri MY.

Hal senada juga diutarakan oleh Saifuddin, Tokoh Masyarakat Kecamatan Pante Bidari Kabupaten Aceh Timur. Dia justru mengakuinya kerap menemukan hal yang tidak wajar dilakukan oleh beberapa kios pengecer gas. Sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 21 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Penyediaan dan Pendistribusian LPG Tabung 3 Kg.

“Pertamina ditunjuk pemerintah melalui Kementerian ESDM sebagai lembaga penyalur resmi LPG bersubsidi 3 kilogram. Sedangkan pengawasannya berada di domain pemerintah,” beber Saifuddin.

Khadijah seorang Ibu Rumah Tangga dari Desa Pante Rambong kepada MITRAPOL.com mengeluhkan, sejak pagi hari ibu dengan dua anak ini mencari gas 3 Kg di sejumlah pengecer, walaupun perjalanannya dari desa turun ke Kecamatan Pantee Bidari yang jaraknya 12 Km, namun demi memasak sesuap nasi untuk keluarga tercinta ia rela menempuh perjalanan jauh mencari gas elpiji 3 kg.

Namun sampai di kecamatan Khadijah tidak menemukan kios pengecer gas yang ada tabung berisi.

“Semua tabung sudah seminggu kosong,” ungkap Khadijah menirukan pengecer gas elpiji.

Akhirnya Khadijah menuju Kecamtan Madat, di sana juga tak kunjung dapat gas 3 Kg dan para pengecer di sana juga mengatakan hal yang sama, dan sampai di Kecamatan Simpang Ulim di sanalah ibu dua anak tersebut membeli gas 3 Kg dengan harga mahal yakni Rp 40 ribu.

“Tolong kepada pihak berwajib untuk menindak lanjuti para Agen, Pangkalan, Pengecer yang menjual harga gas melambung tinggi,” ungkap khadijah dengan nada kesal.

Reporter : zulkifli
Ketua DPD Sulsel Akrindo : Jurnalis Bukan Teroris

Ketua DPD Sulsel Akrindo : Jurnalis Bukan Teroris

MITRAPOL.com - Terkait masalah Kekerasan serta Penghalangan dan pemukulan terhadap Jurnalis yang dialami oleh Panji Bahari Ramadhon dari Media Banten Pos, Ketua DPD Sulsel Assosiasi Kabar Online Indonesia (AKRINDO), Ronald, mengecam keras tindakan Oknum Anggota Polisi yang dengan sangat arogan nya dan dengan kebrutalannya menganiaya dan sekaligus mengintimidasi Wartawan yang sedang Liputan, melalui pesan singkatnya, Senin (23/10/2017).



Akibatnya, Institusi Kepolisian kembali tercoreng oleh tingkah laku dari Oknum Anggotanya sendiri serta Kepercayaan Masyarakat terhadap Kepolisian yang menimbulkan tanda tanya yang sangat besar.

Dalam rilisnya, Ketua DPD Sulsel, mengatakan, Wartawan telah mendapatkan pengakuan dari Negara dan ini terbukti didalam UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers dan semua oknum yang melakukan pelanggaran dan melakukan pemukulan kepada Wartawan harus dituntut secara pidana sesuai pasal 351 KHUPidana.

“Jurnalis bukan Teroris yang harus diperlakukan seperti Itu. Terhadap seorang Wartawan saja perlakuan Anggota Polisi sudah dengan terang-terangan menganiaya, mengintimidasi, dan mengancam akan di culik serta di bunuh. Apalagi kepada Masyarakat???,” ujarnya.

Selanjutnya profesi Jurnalistik merupakan profesi Profesional yang lebih mengedepankan Intelektual dan Etika. “Maka dari itu, Saya DPD SulSel, AKRINDO dengan tegas akan terus mengawal terus Kasus Kekerasan terhadap Wartawan sampai tuntas,” tutupnya.

Reporter : mir